Diposkan pada my story

Libur Telah Tiba

Libur tlah tiba.. libur tlah tiba.. hore.. hore.. hore..😄😄

Ada yang ingat dong itu lagu apa? Itu salah satu lagu favorit ku.. hehe. Dan seperti judul di atas, libur telah tiba.

Seenggaknya, aku dan teman-teman sekelas yang sedang berlibur dari rutinitas kuliah. Banyak teman-teman ku yang beda kelas masih bergelut dengan perkuliahan.

Dan aku beruntung karena sudah melewatinya.

Dari membuat makalah, presentasi hingga final test sudah kami lalui bersama. Dan sekarang adalah masa dimana kami semua -enggak semua sih, tapi sebagian- akan melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman.

Apalagi sekarang kita berada di bulan suci Ramadan. Ramadan tiba, Ramadan tiba. Marhaban yaa Ramadan😄😄

Beberapa dari teman ku memilih untuk pulang kampung, menghabiskan masa liburan serta mengisi kegiatan di bulan Ramadan bersama keluarga. Pasti lebih seru sahur dan berbuka puasa ditengah keluarga setelah berbulan-bulan jauh dari keluarga demi menuntut ilmu di kota.

Sedangkan aku sendiri enggak pernah pulang kampung. Iya lah.. kan kampus sama rumah aku lumayan dekat. Gak mesti naik pesawat atau kapal. Gak perlu nge-kost. Tiap hari ketemu ortu di rumah. Salah satu keberuntungan yang harus disyukuri.

Tapi, kalo libur bingung sendiri mau ngapain aja. Kuliah, capek. Libur, bingung pengen ngapain. Kan jadi galau.

Tapi, gak papa. Kita akan ada disaat waktu sempit dan waktu luang. Kita syukuri aja.. ye gak?? Kita masih hidup di dunia aja merupakan nikmat yang luar biasa. Itu artinya Allah memberi kita kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Diposkan pada cerpen, my story

Pangeran Kodok

Seorang Putri yang sangat cantik sedang asyik bermain bola di taman sekitar istana. Wajah sedih terlihat jelas kala bola yang ia mainkan terjatuh di danau.

Tiba-tiba seekor kodok melompat mendekati Putri.

 

“Apa imbalan yang akan aku dapatkan, jika aku mengambil bola kamu?” Tanya kodok.

 

“Emas, berlian berapapun yang kamu inginkan.” Jawab Putri.

 

“Tapi, aku tidak menginginkan itu. Aku hanya ingin berteman denganmu.”

 

“Baiklah.” Putri mengiyakan permintaan kodok tanpa berniat mengabulkannya.

 

Putri langsung mengambil bolanya Saat kodok itu menyerahkannya.

 

Ia langsung berlari ke istana dan  meninggalkan kodok. Ia tidak mau kodok itu menjadi temannya.

 

Raja memanggil Putri untuk menemuinya. Raja meminta sang Putri untuk menepati janji kepada sang kodok.

 

Kodok sudah menceritakan semuanya kepada Raja.

 

Mau tak mau Putri harus berteman dengan kodok.

 

Ia menghampiri kodok lalu mengelus kepalanya. “Baiklah, sekarang kau menjadi teman ku.”

 

Tiba-tiba kodok itu berubah menjadi seorang pangeran. Dia tinggi dan tampan. Melihat itu, sang putri terkejut.

 

“Terima kasih. Lalu apa kau mau menjadi teman seumur hidupku?”

 

Dengan malu-malu, Sang Putri pun mengiyakan tawaran Pangeran. Lalu mereka hidup bahagia selamanya.

˙˙˙˙

“Tamat. Yey.” Wenny menepuk tangannya kala selesai membacakan dongeng untuk anak-anak panti asuhan.

 

“Ayo, anak-anak kita makan.” Seru ibu Maya, ibu pengurus panti.

 

Serentak mereka berlari masuk kedalam.

 

“Aku adalah pangeran kodok dan akan berubah menjadi pangeran tampan. Karena sebentar lagi akan mendapatkan seorang putri yang cantik.” Wenny tersentak saat telinganya mendengar suara seseorang.

 

Ia mendapati seorang lelaki tinggi berdiri disampingnya dengan senyum mengembang.

 

“Itu hanya dongeng. Mana ada pangeran kodok? Kalaupun kamu pangeran kodok, putri mana yang mau berteman sama kamu?”

 

Wenny tertawa saat membayangkan Fahmi menjadi kodok.

 

“Kamu.” Tawa Wenny terhenti. Ia menatap Fahmi yang tersenyum penuh arti

 

“Kamu mau kan, jadi putri yang akan mengubah pangeran kodok yang penuh kekurangan ini menjadi pangeran tampan yang hidupnya lebih sempurna?”

 

♡END♡

Created by Rossa

Diposkan pada about me, cerpen, my story

Dormitory (part 2)

Assalamu’alaikum semuaaa…. aku mau lanjutin cerita kemaren nih.. dibaca yaa, biar aku seneng 😉

Selama di asrama, pasti lah ada pengalaman yang paling unforgettable banget. Salah satunya telat bangun buat qiyamul lail.

Waktu itu hari ke-2 di asrama. Entah karena kecapekan atau bobonya yang terlalu nyenyak, aku sama dua temen sekamarku bangun di menit-menit terakhir qiyamul lail hampir selesai dilaksanakan. Dengan the power of kepepet kita bertiga langsung keluar kamar, berwudhu dan langsung ke mushola asrama. Waktu kita udah nyampe di mushola, pas banget. Paaaasss bangeeet mereka (temen2 dari kamar lain) udah rakaat terakhir. Jadi, kita langsung aja solat tahujud sendiri-sendiri.

Dan yang paling beruntungnya itu, saat absen (setiap kegiatan asrama selalu absen kehadiran) kita udah selesai solat, dan dianggap hadir sama kakak musyrifah (kakak yang bimbing kita di asrama)-nya. alhamdulillah wa syukurillah punya kakak musyrifah yang baik-baik😉

Terus ada lagi unforgettable moment. 

Aku kan tipe orang yang gak bisa pisah sama orang tua. Terutama ibu. Apalagi ini pertama kalinya nginap di tempat lain selain rumah sendiri dan rumah kakak kandung. Mana aku di asrama sendiri. Maksudnya gak ada keluarga yang menemani. Emang bener-bener semua orang yang di asrama 3  itu temen baru semua.

Kecuali tiga orang. Dua orang sekamar sama aku. Satu nya lagi beda kamar ( kita udah temenan dari MAN)

Jadi, baru tiga hari di asrama. Ibu aku datang ke sana.  Sama acil (adek ibu), kakak+istri+anak.. rombongan gituuu😅

Seneng banget waktu itu. Apalagi dibawain makanan. Banyak lagi😁 lebih dari cukup buat aku sama temen sekamar. Bawain baju juga..

Dan di asrama 3, cuma aku yang di datengin sama keluarga serombongan😆 agak malu sih. Soalnya yang lain cuma didatengin satu atau dua orang doang. Lah aku? Lima orang sekaligusss…

Tapi, gak papa. Aku seneng. Melepas rindu yang tak tertahankan sama keluarga (bahasanya lebay banget yaa..) Apalagi dibawain makanan. Makan mulu nih di otak..😄

Terus yang kedua kalinya ibu datang hari Minggu. Rombongan juga. Ibu, acil, kakak+anaknya. Kali ini kakak yang kedua yang datang, kemaren yang ketiga. Fyi, aku punya tiga kakak. Kakak pertama ada di Surabaya. Tinggal disana sama suami dan anak2nya.

Back to topic, sampe temen aku bilang “rombongan datang” karena cuma aku yang keluarga datang sebanyak itu. Haha😆

Maybe it’s so enaugh. Because I want to sleep now. And have a nice dream, guys. Don’t forget to read doa. I hope you can sharing about your experience. And so do I.

Assalamu’alaikum…

Diposkan pada Uncategorized

DORMITORY

Assalamu’alakum. I want to share my experience. Jadi gini, kampus aku ini mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk memasuki asrama kampus alias Ma’had al-Jami’ah. Karena jumlah kamar yang terbatas dan tidak memungkinkan seluruh maba untuk masuk asrama sekaligus, jadi seluruh maba di seleksi menurut kemampuan membaca al-Qur’an dan pemahamannya.

Nah, dari seleksi ini seluruh maba dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama memasuki asrama sekitar lima atau enam bulan gitu.. Terus tahap yang kedua aku belum tau pastinya berapa lama. Mungkin empat atau lima bulanan. Ini mungkin loh yaaa…😁

Yang terakhir bebas asrama. Yaaa walaupun namanya bebas asrama, tetap aja yang termasuk tahapan ini diwajibkan untuk asrama. Dan aku termasuk di dalamnya. Tapi, cuma enam hari. Yap! Cuma enam hari pemirsaahhh…😁

Kegiatan asrama di tahap bebas asrama padat banget. Bangun tengah malam tidurnya sekitar jam 11.

Nah, aku mau cerita nih dari pengalaman aku di asrama. Fyi, aku baru keluar dari asrama kemaren.. hoho😀

Aku masuk asrama hari Selasa. Dan barang-barang yang aku bawa itu buaannnyyaaakk sekali… satu tas ransel isinya alat alat tulis+alat alat mandi😀Satu tas jinjing besar isinya baju dan teman temannya. Dan terakhir satu tas jinjing kecil isinya baju dan perlengkapan makan. (gak penting banget sih diceritain sebenarnya)😄

Di kampus ada tiga asrama untuk perempuan dan satu asrama laki-laki.

Di hari pertama adalah hari yang paling berat. Karena apa? Karena dihari itu aku sama dua teman sekamar kelaparan. Perut kita itu berdisko ria. Karena gak ada persedian makan. Pengin beli diluar tapi gak ada yang bawa motor. Di sekitar asrama gak ada warung karena baru hari pertama kita disana. Warung sih ada. Penjual sama makanannya yang gak ada😂 Alhasil kita cuma makan roti yang alhamdulillah temen aku beli sebelum dia ke asrama. Kita juga minum dari satu botol air mineral ukuran sedang yang aku bawa. Bayangin satu botol bertiga… kebersamaannya itu lohh keren banget kann..

Dan yang paling parah air gak jalan karena ada gangguan dari PDAM nya gitu dan akhirnya gak bisa mandi.😥 (bau deh nih badan) krisis air itu sampai Rabu pagi. Sorenya air baru deh lancar… car.. car..

Nah, kegiatan kita itu shalat tahajud+witir jam 4 WITA di mushola asrama (karena aku ada di Banjarmasin) dilanjutkan shalat subuh sekaligus shalat isyraq. Terus kita berleha-leha (santai-santai, tiduran and anything). Jam 8 WITA kita shalat dhuha dan sarapan bersama.

Selesai sarapan kita berangkat ke wisma (asrama) empat. Disini kita ada kegiatan dari seluruh wisma. Dari wisma satu sampai wisma empat ngumpul disana. Nama kegiatannya Tamyiz.

Tamyiz itu kegiatan untuk bisa menerjemahkan Al-qur’an. Kegiatannya seru. Kita harus menyanyi dengan suara keras. Lagu-lagunya juga seru.. gak asing ditelinga kita.

Jadi kan, dalam bahasa Arab itu ada huruf, isim dan fiil. Nah, lagu yang sudah ditentukan itu liriknya  diganti sama huruf, isim atau fiil. Atau kalau mau tau cari aja di youtube😉 gak mungkin kan aku nyontohin disini..

Kegiatan Tamyiz itu dari setelah sarapan sampai sebelum zuhur. Terus dilanjutkan lagi sekitar jam dua setelah isoma (istirahat solat makan). Kalau isitrahat, gak bener-bener istirahat juga sih. Soalnya habis solat dan makan kita langsung cabut ke wisma empat lagi buat kegiatan tamyiz tadi sampai asar.

Nah, habis ini nih kita gunakan buat MCK… dan isitrahat sebelum jam enam WITA.. karena jam enam sampai setengah sembilan kita bakalan ada kegiatan zikir, solat magrib jamaah, ta’limul Qur’an dan shalat isya berjamaah sama menghapal doa doa, surah, sampe wirid. Kalau semua udah selesai. Baru deh kegiatan yang paling aku suka makan malam sama tidur…😄 Beeehh.. bobo aku yang paling nyenyak loohh dari dua temen di kamar.. hehe..

Diposkan pada cerita Islami, cerpen, my story

B For Balloons

Aku melangkahkan kaki keluar kantor. Sekarang sudah waktunya untuk pulang. Badanku terasa pegal karena terlalu lama duduk.

Ku perhatikan langit sedang mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

Benar saja. Hujan telah turun dan membasahi pakaian ku. Aku berlari menghindari hujan yang semakin lama semakin deras.

Aku memasuki sebuah kafe. Mungkin minum cokelat hangat, ide yang bagus.

Aku memilih duduk di dekat jendela. Disini aku bisa melihat pemandangan diluar. Hujan masih mengguyur kota.

“Silahkan. Ini pesanan anda.” Ucap pelayan itu sopan sambil meletakkan secangkir cokelat hangat. Aku lalu mengangguk dan tersenyum.

Aku menyeruput cokelat hangat yang masih mengepulkan asap. Badanku terasa hangat.

“Hai.” Aku mengalihkan pandangan ke asal suara. Seorang laki-laki berdiri didepanku. Sepertinya aku mengenalnya. Tapi siapa?

“Kamu Dilla kan? Annisa Al Adilla? Masih ingat aku?”

Aku menggeleng. Aku tidak ingat siapa dia.

“Aku Fatih. Kakak kelas kamu waktu SMA. Dulu kita satu organisasi.” Ia menarik kursi dan duduk dihadapan ku.

“Kak Fatih.” Sekarang aku ingat. Dia satu tingkat diatas ku sewaktu SMA. Dulu aku sempat jatuh hati dengannya. Aduh, membayangkannya saja aku malu.

“Baguslah kamu masih ingat aku. Aku kira kamu amnesia.” Ia tersenyum. Senyum yang membuat siapa pun melihatnya terpana. Ya, termasuk aku.

“Lama tidak bertemu, apa kabar?” Ucapnya sebelum menyesap teh yang baru saja diantar pelayan.

“Alhamdulillah. Baik. Kalau kakak?”

“Alhamdulillah. Aku juga baik. Baru pulang kerja?”

“Iya ka.”

˙˙˙
Seorang wanita paruh baya berjalan mendekati pintu rumahnya. Betapa terkejutnya saat ia melihat orang yang tidak dikenalinya berdiri di depan rumahnya.

“Siapa bu?” Tanya sang suami.

“Perkenalkan saya Rasyid. Ini istri saya, Salma. Dan anak saya Fatih. Saya kesini ada perlu dengan bapa dan ibu.” Tamu tersebut memperkenalkan diri dan keluarganya.

“Baiklah. Silahkan masuk.” Fatih, Rasyid dan istrinya masuk ke dalam rumah mengikuti Irwan. Lalu duduk di atas sofa berwarna cokelat.

“Jadi, ada perlu apa ya?” Tanya Irwan to the point.

“Begini, sebelumnya saya ingin bertanya apa Annisa Al Adilla ada disini?” Irwan mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan ucapan Rasyid.

“Ada. Anda mengenal putri saya?”

“Iya. Saya pemilik perusahaan dimana putri anda bekerja.”

“Ada apa dengannya? Apa dia membuat kesalahan disana?” Irwan khawatir kalau anaknya akan dipecat.

“Ah, tidak. Dia bekerja dengan sangat baik. Saya hanya memastikan kalau dia ada disini. Bahkan, saya kesini ada niatan baik.”

“Niat baik apa?” Irwan semakin tidak mengerti.

“Silahkan diminum dulu.” Ucap Syifa sambil meletakkan cangkir di atas meja.

“Terima kasih, bu.” Ucap Salma.

“Jadi, kami kesini untuk mengkhitbah putri bapa untuk menjadi istri anak saya.” Irwan terkejut. Tapi, segera ia mengendalikan diri.

“Apa anak saya mengenal putra anda?”

“Iya, om. Saya mengenal Dilla. Dulu kita satu sekolah menengah atas. Dan sekarang saya bekerja di tempat yang sama dengannya.”

“Oh begitu. Kalau saya dan istri menerima niatan baik Anda. Tapi, Untuk keputusannya saya serahkan ke Dilla. Karena dia yang akan menjalaninya.”

“Saya akan memanggilnya.”

“Tante, boleh saya saja yang memanggilnya?”

Syifa tersenyum. “Tentu. Dia ada di halaman belakang.”

Fatih segera menuju halaman belakang rumah Dilla. Ia melihat Dilla sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku.

Ia melihat ada balon didekatnya. Ia tersenyum kala mendapatkan sebuah ide.

Ia mengambil balon itu lalu mengikatkan sebuah cincin permata di talinya.

Lalu ia berdiri di belakang Dilla.

“Eh, balon? Cincin?” Dilla terkejut saat ada balon dan cincin yang terikat di talinya ada dihadapannya.

Ia melihat ke belakang. “Pa Fatih?”

Fatih langsung duduk disampingnya dengan memasang tampang masam. “Kan sudah aku bilang, kalau gak di kantor gak usah manggil aku dengan embel-embel ‘pa’? Kesannya aku tua banget.”

Dilla tersenyum melihat kelakuan atasannya itu. “Bapa eh ka Fatih tau dari mana rumah Dilla? Ada urusan apa?”

“Bagi seorang direktur sangat mudah mengetahui dimana bawahannya tinggal. Dan memangnya ini kurang cukup menjelaskan ya?” Fatih menunjuk balon yang ia pegang dari tadi.

Dilla sangat bingung. Memang ada apa dengan balonnya?

“Itu kan balon keponakan Dilla.”

“Bukan balon yang dilihat. Tapi, cincin nya.” Fatih terlihat gemas karena Dilla belum mengerti maksudnya.

Padahal kan maksudnya biar romantis.

Kemudian Fatih tersenyum. Senyum tulus yang menenangkan. “Aku melamar kamu.”

Dilla diam. Perlahan bibirnya berkedut-kedut karena menahan tawa.

“Hahaha.” Dan pertahanannya hancur. Ia tertawa di hadapan bosnya. “Gak lucu ka.” Pasti bosnya ini sedang bercanda.

“Aku serius. Aku mau kamu jadi pendamping hidupku. Seperti balon-balon aneka warna disana. Kamu sudah mewarnai hari-hari ku menjadi lebih indah.”

Lagi-lagi Dilla diam. Mencerna kata-kata Fatih.

 

 

 

 

 

 

 

Hingga akhirnya ia tersenyum penuh arti.

 

 

Created by Rossa.

Diposkan pada cerita Islami, cerpen, my story

A For Allah

Langit hitam dan awan kelabu seakan mewakili perasaan yang dirasakan seorang pemuda. Ia menatap sendu gundukan tanah yang ada di depannya.

Tidak hanya satu. Tapi, dua gundukan tanah yang bersebelahan.

Ia baru saja kehilangan dua orang yang paling ia sayangi.

Kemarin orang tuanya mengalami kecelakaan maut. Mobil yang mereka tumpangi bersama adik perempuannya ditabrak truk pengangkut pasir dari arah berlawanan.

Ayahnya mengalami luka parah pada kaki dan perutnya. Sedangkan sang ibu mengalami luka parah dikepala.

Sekarang sang adik sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kepalanya terbentur kaca jendela mobil. Ia kehilangan banyak darah. Membuat keadaannya koma.

Pemuda itu langsung menghapus air mata yang membekas di pipinya. Laki-laki bukan berati tidak boleh menangis, bukan?

Ia juga manusia yang bisa merasakan sedih dan sakitnya ditinggal orang yang disayangi.

‘Aku tidak boleh terus-terusan bersedih. Pasti ada hikmah dibalik semua ini.’

‘Aku masih punya Alya untuk menemani hidupku. Dan aku masih punya Allah. Aku hidup untuk beribadah kepada Allah. Dan akan menemani Alya untuk semangat menjalani hidup ke depannya. Walaupun tanpa ayah dan ibu.’

Ia lalu beranjak dari tempat asalnya. Berjalan meninggalkan gundukan tanah tadi.

Langit yang semula hitam, kini cerah. Terdapat pelangi diujung sana. Menjadi pemanis pemandangan sore.

Pemuda itu telah mendapat semangatnya kembali. Senyum cerah terpatri jelas di wajahnya. Membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

♡ END ♡

Created by Rossa

Diposkan pada cerpen, my article, my story

Diam

Iya. Aku diam. Aku memang dikenal sebagai anak pendiam di sekolah.

 

Tapi, aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa-apa.

 

Aku diam bukan berarti aku tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Aku diam karena aku ingin menjaga lisan atau perkataan ku. Aku tidak ingin menyakiti orang dengan perkataan yang tanpa sengaja aku lontarkan. Oleh sebab itu, aku harus berpikir sebelum berkata.

 

Nabi Muhammad SAW. Pernah bersabda ” berkatalah yang baik atau diam.”

 

Dan Aku diam karena aku suka ketenangan.

 

Aku lebih memilih menjadi pendengar yang baik. Bukankah Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut. Itu karena  Allah menyuruh kita untuk sering mendengarkan.

 

Karena ada kalanya sesuatu yang hanya diri sendiri dan Allah yang tahu lebih baik dari pada mengumbarnya.

 

Jika ada masalah berdo’a lah, mengadu dengan sang Maha Pencipta. Karena percaya lah, kita bisa melihat pelangi setelah badai.

 

Seperti firman Alladalam dalam Surah Al- Insyirah:6 “Sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

 

Masha Allah.